Yang sudah tidak bernilai harganya, tidak akan pernah lagi ditengok,
jadi jangan pernah berharap untuk dilihat. Di depan matanya telah ada
berlian yang menyilaukan matanya, bersemayam di hatinya, dan memutar
otaknya untuk memikirkan bagaimana meraihnya.
Sejenak, ia hanya lupa bahwa sebelumnya ia pernah dengan erat menggenggam tongkatnya untuk berjalan bahkan hanya berdiri.
Kini dia telah bisa berlari, maka tak ada yang tahu bagaimana lelahnya menjadi tongkat itu, yang pernah bermimpi akan terus digenggamnya, menemaninya berjalan bahkan hanya berdiri sampai hari tuanya, dan bahkan menutup matanya.
Tetapi toh siapa yang tahu bahwa usianya tetap merapuh oleh masa. Karena terik dan hujan ia akan keropos, lalu patah dan hilang.
Semacam itulah jika harus diibaratkan.
Tetapi suatu saat nanti, ketika belulangnya telah dimakan waktu, ketika punggungnya telah membungkuk, dan rambutnya telah beruban, dia akan mengerti bahwa tongkatnya pernah sangat berarti.
Segalanya
memang ada masanya. Masa menjadi yang dicintai. Menjadi yang dilupakan.
Menjadi yang dirindukan. Menjadi yang dibutuhkan. Dan menjadi yang
paling berharga meski hanya dalam kenangan.


No comments:
Post a Comment